Recap Visual Art Exhibition by Octo Cornelius : “Hi[s]tory”
Hi[s]tory: Visual Art Exhibition
by Octo Cornelius
March, 9 – 25 2012
Opening:
Friday, March 9 2012 | 04.00pm
Venue:
Lir Shop
Jl. Anggrek, 1/33, Baciro, Jogja
lirshop.blogspot.com
Hi[s]tory: Mengikat Ingatan
Masa lalu adalah bagian penting yang membangun keberadaan seseorang di masa kini. Mungkin hal inilah yang sedang dirasakan seorang Octo Cornelius melalui pamerannnya yang berjudul “Hi[s]tory”.
Selepas 12 tahun berada di Yogyakarta, ia mencoba mengingat kembali berbagai hal yang menjadi pijakan atas keberadaannya di masa kini. Keberadaanya yang secara fisik jauh dari tempat asalnya, Rembang memberinya jarak dalam melihat berbagai pengalaman yang pernah dialaminya. Berbagai hal menjadi terlihat penting untuk diungkapkan karena apa yang dilihat sebagai sejarah personalnya terkait erat dengan keberadaan sejarah lain yang lebih besar.
Hal-hal yang awalnya terasa sangat umum dan lokal kini menjadi hal yang penting. Keberadaan petani garam, buah Kawista (Limunia Acisdissima atau Indian Woodapple), bangunan kolonial, dan berbagai hal lainnya menjadi latar bagaimana sejarah personalnya terangkai. Octo Cornelius tidak lagi sekedar mengingat berbagai peristiwa masa lalunya, tapi di saat yang bersamaan ia sedang mengikatkan diri pada rumah masa lalunya, Rembang.
Kayu menjadi material yang mendominasi karya-karyanya. Hal ini merupakan salah satu bentuk proses yang terbangun dari kehidupan masa kecilnya dimana dia kerap melibatkan diri dalam aktifitas yang melibatkan kayu serta keberadaan Rembang sebagai produsen kayu. Kedekatan dengan kayu yang sudah bermula cukup lama menghasilkan pemahaman yang mendalam serta pengolahan material secara detil dan rapi.
Selain kayu, fotografi yang menjadi latar belakang pendidikannya pun tetap digunakan sebagai pendekatan dalam beberapa karya. Ingatannya yang terkikis dan tidak menyeluruh coba direpresentasikannya melalui foto-foto yang rusak termakan jaman. Ia seolah meletakkan kemampuan fotografi tidak lebih baik dari perekaman yang dilakukannya secara personal melalui tubuhnya sendiri.
Sudut pandang Octo Cornelius dalam membicarakan hal-hal yang dekat dengan dirinya memberikan keleluasaan untuk membawa berbagai isu tersebut ke titik yang lebih dalam. Alih-alih mengangkat isu yang coba dibesar-besarkannya, ia justru bermain-main menggunakan pengalaman pribadinya yang mungkin terlihat sederhana. Hal ini dirasanya mampu berfungsi sebagai pijakan dasar dalam melihat permasalahan yang lebih besar. Seluruh karya menjadi gambaran besar tentang Rembang, sebuah kota kecil di pesisir utara Pulau Jawa yang dilihatnya sebagai sumber inspirasi atas apa yang terjadi padanya saat ini.
KLIK POTO UNTUK PERBESAR >>>
Teks and Photo by Lir Shop










































