Review + Audio Diskusi Street Art: Ekspresi Politis, Pencarian Jati Diri Anak Muda dan Kuasa Pasar
Tema: Street Art: Ekspresi Politis, Pencarian Jati Diri Anak Muda dan Kuasa Pasar
Pembicara: Dr. Doreen Lee
(Asisten profesor di Departemen Antropologi Northeastern University, Amerika Serikat.Penelitiannya di Indonesia mencakup tema politik, sejarah, budaya visual dan globalisasi)
Waktu: Rabu, 29 Februari 2012, pukul 15.00-17.00 WIB
Tempat: Indonesian Street Art Database,
Jl. Bambu Ampel III No. D. 15 A
Komplek Paminda, Pasar Minggu
Jakarta Selatan
Kontak: 021-7800 035
Rangkuman Diskusi
:
Jika kita melihat suasana di jalanan di kota Jakarta, akan terlihat sangat tidak teratur, memiliki kesan bahwa kota ini ramai dan ada upaya untuk mengisi ruang kota dengan urban play. Sejarah urban di Indonesia, terutama setelah krisis ekonomi 1997, banyak sekali proyek-proyek pemerintah yang belum selesai di Jakarta seperti halnya monorail. Ini menjadi peluang buat seniman untuk berkarya di tempat-tempat seperti itu, menambahkan sesuatu. Contoh urban play yang memanfaatkan kerusakan kota Jakarta sebagai gagasan penciptaannya ialah karya video Irwan Ahmett dan Tita Salina berjudul Urban Play.
Banyak asumsi tentang pelaku street art di Jakarta adalah para siswa SMA, sebagian besar coretan-coretan di Jakarta merupakan tulisan nama sekolah. Ada kesan umum bahwa ini merupakan fenomena tidak penting, tidak memiliki nilai budaya. Namun jika kita melihat lebih jauh lagi, ternyata sangat beragam, mulai dari kalangan menengah ke atas, dosen, pelajar, dll.
Dalam konteks street art, hal yang membedakan kasus antara di Indonesia dengan barat diantaranya ialah, di barat ada kesan marjinal, geng, minoritas, masyarakat tertindas. Di indonesia cenderung tidak seperti itu, meskipun ada kesan pemberontakan yang sengaja diciptakan street artists di Indonesia.
Metodologi Public Culture
Public culture sebagai konsep mencakupi isu-isu ruang publik dan kehidupan sehari-hari. Salah satu kutipan yang terkenal mengenai hal ini ialah: “Space is a practice place”. Dikemukakan oleh Thus de Certeau. Secara sederhana bisa diartikan bahwa ruang, termasuk ruang publik, terbentuk dari rutinitas keseharian. Ada efek-efek material dan virtual yang berdampak pada ruang publik. Pada tahun 80-an, diikrarkan manifesto public culture oleh Arjun Appadurai dan Carol Breckenridge yang inti dari manifesto itu ialah: Publik mendeskripsikan bentuk-bentuk budaya yang dapat dirasaakan oleh seluruh masyarakat, bukan hanya golongan menengah ke atas, elit, atau masyarakat popoler, tetapi semuanya. Mendeskripsikan imajinasi baru yang dihasilkan oleh globalisasi.
Street Art dan Pasar
Pasar untuk street art di Indonesia sangat luas, mereka mulai menciptakan pasar sendiri dan bisa disebut ‘alternative market’ seperti membuka lapak sendiri dengan pembeli yang beragam. Jika kita melihat street art hanya sebagai pengaruh budaya barat dari internet, sebenarnya ada estetika lokal seperti pada tulisan-tulisan tambal ban, cucian motor, bahkan coretan-coretan dinding yang setidaknya membuat kita mengkaji lebih jauh fenomena tersebut.
Secara keseluruhan, kesimpulan dari diskusi ini ialah bahwa ruang publik di Indonesia, terutama di Jakarta, merupakan hasil dari negosiasi, sangat informal, bukan sepenuhnya milik pemerintah. Meskipun tidak keseluruhan, namun pada umumnya anak muda hanya melihat ruang publik sebagai kanvas, kemudian mereka menggambarnya, dan mengunggah gambar ke sosial media. Evolusinya hanya seputar itu. Kota ialah cermainan dari saya.
–Asep Topan, 2012
Rekaman Audio Diskusi Berkala Indonesian Street Art Database:
Recap Photo:
*Text+Photo by ISAD doc.




















