Viva La Woman at Jogja National Museum
Viva La Woman
Jogja National Museum, 21 April 2012.
Kala itu sekitar pukul 8 malam saya dan kakak saya terlambat menghadiri sebuah hajatan ‘Punk’ yang memiliki tema cukup heroik, acara ini merupakan sebuah peringatan kepada perjuangan salah satu figur pahlawan perempuan kita… yaitu R.A. Kartini . Crusties disana, Skinhead disini, sebelum memasuki stage area pun sudah tercium adrenalin yang amat kuat dan bersenyawa raw yang terpancar dari acara tersebut. Dengan tanpa keraguan saya dan kakak saya (Fina) membayar tiket masuk seharga lima ribu rupiah agar dapat ikut serta merasakan adrenalin tersebut. Acara yang diadakan oleh Jogjaladiespunx ini benar-benar tidak salah pilih tema, panitia mereka pun mayoritas wanita, yeah riot grrrl is on their move my darling.
Ketika kami menginjakan kaki kami di stage area Jogja National Museum (JNM), terlihat sesosok wanita bertubuh kecil sedang berlompatan sambil berteriak lantang di atas panggung. Saya langsung mengenali sosok tersebut, sosok tersebut adalah Fransisca Ayu. Seorang vokalis wanita dari female fronted hardcore punk band asli Jogja bernama B.A.C. Kerumunan orang di stage area saat itu terlihat belum terpusat di panggung dan masih tersebar, intinya adalah perhatian mereka belum terpusat secara menyeluruh pada apa yang terjadi silih berganti di atas pentas. Melanjutkan dua kata pada kalimat saya sebelumnya yaitu silih berganti, sesuaraan Ska, Punk Rock, Hardcore Punk, Crust Punk dan kawan-kawan sejenisnya mendominasi acara Viva La Woman malam itu. Tembang-tembang lawas seperti ‘Monkey Man’ dari The Specials cukup banyak disuarakan dari beberapa band yang ikut bertembang ria pada acara malam itu. Kembali para pengunjung terlihat tersita perhatianya saat Kicrit, vokalis dari Throughout menunjukan kelincahanya malam itu dengan alunan old school hardcore era 90-an khas milik mereka.
Para penikmat musik keras malam itu yang tergabung dalam kehangatan acara Viva La Woman pun memanas secara perlahan-lahan. Screaom of Oi! Menunjukan taring mereka kepada para penggemar mereka yang hadir malam itu. Satu band yang sebelumnya belum pernah saya lihat, dan cukup menyita perhatian saya malam itu adalah SelfRevolution dari Malang. Frontman dari band ini seperti memakai kostum khusus.Celana ketat putih, pakaian dalam warna putih serta wajah yang sudah dicat sedemikian rupa dengan warna hitam dan putih. Tidak, itu bukan corpsepaint kawanku. Itu dandanan khas ala band droogies-punk rock tahun 70-an, The Addicts. Benar saja, frontman dari SelfRevolution mengingatkan saya pada kelincahan Keith ‘Monkey’ Warren. Lincah, gila dan liar seperti Joker saat menipu Batman dengan segala siasat liciknya. Viva La Revolution yang menjadi tembang andalan dari The Adicts dibawakan dengan powerfull, dan cukup mengguggah saya ketika orgasme mulai mengendur.
Usai SelfRevolution menutup aksi mereka dengan gemilang, it’s time to enjoy some D-Beat Noise from A Sistem Rijek ?!. Panas, kering dan kasar seperti biasanya A Sistem Rijek ?! menyita perhatian masa penikmat D-Beat punk dengan dentuman super atomik dan distorsi yang berdencit tiada hentinya. Saatnya Dom 65 sebagai salah satu band Punk Rock kawakan asal Yogyakarta, meraungkan suara mereka untuk para Hyena. Dom 65 hanya membawakan dua tembang dan tembang ‘Me And The Kids’ menjadi sebuah pamungkas malam itu. Hal itu dikarenakan waktu yang sudah mendekati pukul 12 malam, dimana biasanya acara-acara apapun bentuknya itu sudah harus usai atas nama kenyamanan. Yah nyatanya memang seperti itu, usai Dom 65 berberisik ria, banyak penonton meninggalkan venue. Begitu pula saya yang beranjak untuk kembali kehidupan nyata atas nama… lagi-lagi kenyamanan. Kesimpulanya acara malam itu adalah acara yang sudah lama tidak saya lihat. Raw, berantakan, tidak enak dipandang dan Bau alkohol dimana-mana. Tapi itu adalah sebuah kenikmatan yang sudah usang umurnya, namun tak pernah usang untuk dinikmati. Viva La Woman my friends !!!
Article and Photo taken by: Hilman Fathoni




















